assalamualaikum kal ini saya akan mengshare laporan praktikum biokimia dengan harapan adik adik dapat mempelajarinya sebelum praktikum biokimia dilaksanakan
MAKALAH PRAKTIKUM
BIOKIMIA
OLEH
TRI HARDIANTO ABRIAN
134110223
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
PERCOBAAN I
KARBOHIDRAT
OLEH
TRI HARDIANTO ABRIAN
134110223
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
Percobaan
I
Karbohidrat
Tujuan
intruksional
Mahasiswa diharaka mampu:
a. Mengenal
bebagai macam karbohidrat
b. Menjelaskan
cara pengujian tentang adanya karbohidrat
1.1
uji
molish
dasar teori
karbohidrat sebenarnya
merupakan nam umum senyawa-senyawa kimia berupa bentuk hidrat dari karbon dan
secara empiris mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Tetapi ada juga
karbohidrat yang mempunyai rumus empiris tidak seperti rumus diatas, yaitu
deoksiribosa, deoksiheksosa dan lain- lain Semua jenis karbohidrat terdiri atas
unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan Oksigen (O). Perbandingan antara
hydrogen dan oksigen pada umumnya adalah 2:1 seperti halnya dalam air; oleh
karena itu diberi nama karbohidrat. Dalam bentuk sederhana, formula umum
karbohidrat adalah CnH2nOn. Hanya heksosa (6-atom karbon), serta pentosa
(5-atom karbon), dan polimernya memegang perana penting dalam ilmu gizi.
Lebih lazimnya dikenal
sebagai gula, karbohidrat merupakan produk akhir utama penggabungan
fotosintetik dari karbon anorganik (CO2) ke dalam zat hidup. Karbohidrat
bertindak sebagai sumber karbon untuk sintesis biomolekul lain dan sebagai
bentuk cadangan polimerik dari energi. Karbohidrat juga dapat didefinisan
sebagai polihidroksialdehid atau polihidroksiketon dan derivatnya. Suatu
karbohidtrat merupakan suatu aldehid (-CHO) jika oksigen karbonil berkaitan
dengan suatu atom karbon terminal, dan suatu keton (=C=O) jika olsigen karbonil
berikatan sengan suatu karbon terminal. Dalam alam, karbohidrat terdapat dalam
monosakarida, oligosakarida dan polisakarida.
Karbohidrat mempunyai
peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa,
warna, tekstur, dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk
mencegah timbulnya ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan
mineral, dan berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein.
Kedudukan karbohidrat
sangatlah penting pada manusia dan hewan tingkat tinggi lainnya, yaitu sebagai
sumber kalori. Karbohidrat juga mempunyai fungsi biologi lainnya yang tak kalah
penting bagi beberapa makhluk hidup tingkat rendah, ragi misalnya, mengubah
karbohidrat (glukosa) menjadi alkohol dan karbon dioksida untuk menghasilkan
energi
C6H12O6 ——> 2C2H5OH
+ 2CO2 + energi
Beberapa turunan
karbohidrat yang penting adalah glulosa, fruktosa dan Deosiribosa. Glukosa
disebut juga gula anggur karena terdapat dalam buah anggur, gula darah karena
terdapat dalam darah atau dekstrosa karena memutarkan bidang polarisasi
kekanan. Glukosa merupakan monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum,
selulosa dan glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat
pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa. Fruktosa terdapat dalam
buah2an, merupakan gula yang paling manis. Bersama2 dengan glukosa merupakan
komponen utama dari madu. Larutannya merupakan pemutar kiri sehingga fruktosa
disebut juga levulosa. Ribosa da 2-deoksiribosa adalah gula pentosa yg
membentuk RNA dan DNA.
Karbohidrat banyak
terdapat dalam bahan nabati, baik berupa gula sederhana, heksosa, pentosa,
maupun karbohidrat dengan berat molekul yang tinggi seperti pati, pektin,
selulosa, dan lignin. Selulosa berperan sebagai penyusun dinding sel tanaman.
Buah-buahan mengandung monosakarida seperti glukosa dan fruktosa.
berdasarkan sifat-sifatnya
terhadap zat-zat penghidrolisa karbohidrat dibagi dalam 4 kelompok utama :
1. Monosakarida
Karbohidrat yang tidak
dapat dihidrolisa menjadi senyawa yang lebih sederhana
2. Oligosakarida
Senyawa yang terbentuk
dari gabungan 2 molekul atau lebih monosakarida
3. Glikosida
Senyawa yang terdiri
dari gabungan molekul gula dan molekul non gula
4. Polisakarida
Semua jenis karbohidrat
baik mono, di maupun polisakarida akan berwarna merah. Apabila larutannya
(dalam air) dicampur dengan beberapa tetes larutan alpha naphtol dan kemudian
dialirkan pada asam sulfat pekat dengan hati-hati sehingga tidak tercampur.
Warna merah akan tampak
pada bidang batas antara campuran
karbohidrat dengan α naphtol dan asam
sulfat pekat. Sifat ini dipakai sebagai
dasar uji kualitatif adanya karbohidrat
dan dikenal sebagai uji Molish.
1.1.1
Bahan dan Alat
-
Bahan
a.
Glukose 1%
b.
Fruktose 1%
c.
Maltose 1%
d.
Sukrose 1%
e.
Laktose 1%
f.
H2SO4
-
Alat
a.
Tabung reaksi 5 buah
b.
Rak tabung reaksi
c.
gelas ukur 2 buah
d.
Pipet tetes 4 buah
1.1.2.
gambar bahan dan alat
(Bahan)
Glukosa fruktosa maltose
Sukrosa
laktosa H2SO4
( alat )
Tabung reaksi dan rak gelas ukur dan pipet tetes
1.2.
Uji Benedict
Dasar
Teori
Gula reduksi dengan
larutan Benedict (campuran garam Kupri Sulfat, Natrium Sitrat, Natrium
Karbonat) akan terjadi reaksi reduksi oksidasi dan dihasilkan endapan berwarna
merah dari kupro oksida.
Jika tidak ada zat yang
mereduksi maka larutan Benedict ini tetap jernih sesudah percobaan. Tetapi
apabila jumlah karbohidrat yang mereduksi banyak sekali maka reaksi terlihat
sebelum dipanaskan.
Dalam percobaan ini
yang terpenting adalah terjadinya kekeruhan (endapan halus/kasar) dan bukan
perubahan warna. Kemungkinan akan terlihat kekeruhan dengan hijau, kuning atau
merah tergantung dari halus kasarnya endapan Cu2O.
1.2.1.
Bahan dan Alat
-
Bahan
a.
Glukose 1%
b.
Fruktose 1%
c.
Sukrose 1%
d.
Reagent Benedict
-
Alat
a.
Tabung reaksi 3 buah
b.
Rak tabung Reaksi
c.
Pemanas
d.
Beaker glass
e.
gelas ukur 2 buah
f.
pipet tetes 3 buah
1.2.2
gambar bahan dan alat
( bahan )
Glukosa fruktosa
Sukrosa reagent
binedict
(
alat )
Tabung reaksi dan rak gelas ukur
dan pipet tetes
Pemanas beaker
glass
1.3.
Uji Iodium
Dasar
Teori
Karbohidrat golongan
polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodine dan memberikan warna spesifik
bergantung pada jenis karbohidratnya. Amilose dengan iodine akan berwarna biru,
amilopektin dengan iodine akan berwarna merah violet, glikogen maupun dextrin
dengan iodine akan berwarna coklat.
1.3.1.
Bahan dan Alat
-Bahan
a.
maltose
b.
air
c.
HCl
d.
NaOH
e.
Iodin
- Alat
a.
Tabung Reaksi 3 buah
b.
Rak tabung reaksi
c.
Pipet tetes 3 buah
1.3.2
gambar bahan dan alat
( bahan )
Maltose iodin HCl
NaOH air
( alat )
Rak dan tabung reaksi pipet
tetes
3.2
gambar hasil
Uji
molish
Glukosa fruktosa
maltose sukrosa laktosa
Uji benedict
Glukosa sukrosa fruktosa
Uji iodin
(maltosal+air) (maltosa+HCl) (maltosa+NaOH)
6.
kesimpulan
pada percobaan
uji molish dalam partikum karbohidrat yang menghasilkan cincin sebagai batas
antara warna merah larutan karbohidrat dengan asam sulfat. dimana percobaan
yang digunakan larutan ( glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa, dan sukrosa )
dengan ditambahnya H2SO4 .
pada
uji benedict mengalami hasil pasifik dimana hasil pada larutan glukosa dan
fruktosa merupakan gula pereduksi dengan warna merah bata. Sedangkan, sukrosa
tidak mengalami perubahan warna ( biru )
pada
percobaan uji iodium mengalami hasil dengan terjadinya perubahan warna pada
larutan maltosa dengan ditambahnya air dan HCl dengan warna kuning. Sedangkan,
pada campuran larutan maltosa dengan NaOH tidak mengalami perubahan warna (
jernih )
Daftar
pustaka
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar
Biokimia Jilid 1. Penerjemah Maggy Thenawijaya. Jakarta: Erlangga.
http://Mohammad nizam mustaqim's blog laporan karbohidrat.htm ( diakases pukul 9.13, 10 maret
2014 )
Poedjiadi, anna dan f.m. titin supriyanti. 2009. Dasar-dasar biokomia. Jakarta:
universitas indonesia.
PERCOBAAN II
PROTEIN
OLEH
TRI HARDIANTO ABRIAN
134110223
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
PERCOBAAN II
PROTEIN
Tujuan
Instruksional Khusus
Mahasiswa
diharapkan mampu : Mengamati perubahan yang terjadi pada uji Millon dan uji
Biuret
1.1.
Uji Millon
Dasar Teori
Keistimewaan dari
protein adalah strukturnya yang mengandung N,disamping C,H,O (seperti
karbohidrat dan lemak), S dan kadang-kadang P,Fe dan Cu (sebagai senyawa
kompleks dengan protein). Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang
cukup spesifik untuk menentukan jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan
penentuan kandungan N yang ada dalam bahan makanan atau bahan lain.
Molekul protein sendiri
merupakan rantai panjang yang tersusun oleh matarantai asam-asam amino. Asam
amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil (-COOH) dan
satu atau lebih gugus amino (- NH2) yang salah satunya terletak pada atom C. Protein
yang mengandung gugus hidroksil Phenil (- - OH) dapat bereaksi dengan larutan
mercuri nitrat dapat menghasilkan larutan atau endapan yang berwarna merah.
1.1.1
Bahan dan Alat
-Bahan
a.
Albumin ( putih telur)
b.
Gelatin ( jelly/agar-agar )
c.
Casein ( susu )
d.
Reagent Millon ( air raksa )
- Alat
a.
Tabung reaksi 3 buah
b.
Rak tabung reaksi
c.
Pipet tetes
d.
Beaker glass
e.
Pemanas
1.1.2 gambar bahan dan alat
( bahan )
Telur + jelly + susu reagent millon
(
alat )
Rak dan tabung reaksi pipet
tetes
Pemanas beaker
glass
1.2.
Uji Biuret
Dasar
Teori
Dalam suasana basa Cu
bereaksi dengan beberapa jenis larutan protein dan menghasilkan warna violet.
Hasil pembentukan senyawa kompleks, reaksi biuret dapat terjadi pada molekul
yang mengandung 2 gugus ( - CO - NH -) yang terikat pada satu atom karbon atau
atom nitrogen atau terikat langsung. Senyawa yang mengandung gugus – CO- NH –
diganti dengan gugus – CO –NH2 O - C – NH2 atau gugus –CH2NH2
juga positif dalam uji Biuret. Uji test ini diberikan nama berdasarkan nama
senyawa biuret. NH2 – CO – NH – CO – NH2, yang memberikan
uji positif. Uji Biuret merupakan uji karakteristik dari protein
1.2.1
Bahan dan Alat
- Bahan
a.
Albumin 20% ( putih telur )
b.
Gelatin 20%
c.
Casein 20%
d.
NaOH 0.1 N
e.
CuSO4 0.1 N
- Alat
a.
Tabung reaksi
b.
Rak tabung reaksi
c.
Pipet volume
d.
Pipet tetes
1.2.2
gambar bahan dan alat
( bahan )
Telur + jelly + susu NaOH 0.1 N CuSO4
(
alat )
Rak dan tabung reaksi pipet
tetes
3.2
gambar hasil penelitian
( uji millon )
Albumin casein gelatin
( uji biuret )
Albumin casein gelatin
6.
kesimpulan
1. uji millon dalam menentukan kandungan protein
dengan bahan dasar larutan protein dan reagent millon dengan menghasilkan hasil
positif dengan endapan berwarna merah.
2. uji biuret dengan menggunkan bahan dari protein
dan ditambah NaOH dan CuSO4 dengan menghasilkan warna positif dengan
berwarna violet.
Daftar
pustaka
http://Azwar Gunungsari uji protein.htm ( diakses 10 maret 2014, 9.20 )
http://ayokesehatan.blogspot.com/2014/01/pengertian-protein-fungsi-protein-dan-sumber-protein.html#sthash.45C7Lc5k.dpuf ( diakses 18 maret
2014, 9.45)
Almatsier, S.
”Prinsip Dasar Ilmu Gizi”. Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta :
2006.
Sediaoetama,
Drs. Ahmad Djaeni. ”Ilmu Gizi”. Penerbit : Dian Rakyat Jakarta : 2006.
Lehninger.
1982. Dasar-dasar Biokimia. Penerjemah: Maggy Thenawijaya. Jakarta:
Erlangga.
Wirahadikusumah,
Muhammad. 1997. Biokimia: protein, enzim, dan asam. Bandung: Penerbit
ITB.
PERCOBAAN III
PENGUJIAN
ANGKA SAPONIFIKASI
OLEH
TRI HARDIANTO ABRIAN
134110223
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
PERCOBAAN
III
PENGUJIAN
ANGKA SAPONIFIKASI
Tujuan
Instruksional Khusus
Diharapkan mahasiswa
mampu :
Menentukan berat
molekul minyak dan lemak secara kasar
1. Dasar Teori
Saponifikasi adalah
hidrolisa lemak/minyak dengan suatu basa kuat. Hasilnya adalah gliserol dan
garam daria sam lemak itu sendiri yang dikenal sebagai sabun. Bilangan
penyabunan suatu lemak/minyak adalah banyaknya mg KOH atau NaOH yang dibutuhkan
untuk menyabunkan 1 gram lemak atau minyak. Alkohol yang ada dalam KOH
berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar supaya mempermudah
reaksi dengan basa sehingga terbentuk sabun. Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk mengetahi sifat minyak dan lemak. Pengujian sifat ini dapat
digunakan untuk membedakan lemak yang satu dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat juga digunakan untuk
menentukan berat molekul dari suatu lemak
atau minyak.
O
CH2 – O – C – R1 CH2 – OH R1COOK
O
CH2 – O – C – R2 + KOH CH2
– OH R2COOK
O
CH2 – O – C – R3 CH2 – OH R3COOK
Minyak Gliserol Sabun
2.
Bahan dan Alat
- Bahan
a.
Minyak
b.
KOH 0.5 N alkoholik
c.
HCl 0.5N
d.
PP
- Alat
a.
gelas ukur 50 ml dan 10 ml
b.
Erlenmeyer
c.
alat pemanas
d.
Pipet tetes
2.1 gambar bahan dan
alat
( bahan )
Minyak KOH 0.5 N alkoholik
HCl
0.5 N PP
( alat )
Gelas ukur 50 ml gelas
ukur 10 ml dan pipet tetes
Erlenmayer alat pemanas
4.1.
gambar hasil praktikum
minyak 5 ml + 40 ml KOH 0.5 N di panaskan
Di dinginkan + 15 ml HCl 0.5 N dan di kocok
Tambahkan
dengan PP dan di kocok
7.
kesimpulan
Saponifikasi
adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak dicampur dengan larutan alkali.
Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin. Angka
penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (gram) NaOH atau KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram
lemak atau minyak. Alkohol yang ada pada KOH berfungsi
untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa
sehingga membentuk sabun.
Bahwa dalam hasil
pratikum tentang pengujian angka seponifikasi terhadap minyak untuk hasil sabum
dalam penyabunan dengan menggunakan KOH dan di tamabh dengan HCL. Hasilnya
terdapat butiran air sabun dengan mmemanasjan dan mengocoknya dan digunakan PP
untuk warna.
DAFTAR PUSTAKA
My
Document Pengujian Angka
Saponifikasi.htm ( di akses pada 10 maret
2014, 09.29 )
Bailey, AE. 1950. Industrial oil and Fat Product. New York: Intersholastic
Publishing Inc
Fessenden & Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga
Luis, S. 1994. Soap and Detergen, A Theoritical and Practical review. New York:
AOCS Press
Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Organik (Stereokimia, Karbohidrat,
Lemak, & Protein). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
PERCOBAAN IV
LEMAK
OLEH
TRI HARDIANTO ABRIAN
134110223
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
PERCOBAAN
IV
LEMAK
1.
Tujuan Instruksional Khusus
Pada akhir percobaan
mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengerti hal-hal sebagai berikut :
a.
Dapat mengetahui penggolongan lemak dan struktur molekulnya
b.
Dapat mengetahui sifat-sifat kimia lemak
c.
Dapat mengetahui dan melakukan uji sifat-sifat reaksi kimia lemak
2.
Dasar Teori
Ada beberapa macam
lemak semuanya bersifat non polar. Merupakan senyawa yang tidak larut dalam
air. Lemak adalah salah satu bentuk dari lipida dalam tubuh yang berfungsi
sebagai sumber energi.
Lemak sederhana adalah
merupakan ester dari asam lemak. Hidrolisa dari suatu lemak akan dihasilkan
satu molekul glycerol dan tiga molekul asam lemak. Lemak dan minyak keduanya
adalah lemak sederhana, perbedaannya terletak pada banyaknya ikatan rangkap
(ketidak jenuhan). Pada minyak asam lemaknya banyak mengandung ikatan rangkap dengan
titik cair rendah untuk menghilangkan ikatan rangkap bias dilakukan dengan cara
hidrogenasi yang dapat merubah dari bentuk cair berbentuk padat.
3.
Bahan dan Alat
- Bahan
a.
Aquades
b.
Bensin
c.
Na2CO3
d.
kloroform
e.
Minyak kelapa
f.
alkohol
- Alat
a.
Tabung reaksi 4 buah
b.
Rak tabung reaksi
c.
gelas ukur
d.
pipet tetes
e.
spatula
3.1
gambar bahan dan alat
( bahan )
Aquades bensin
Na2CO3 kloroform
Minyak kelapa alkohol
( alat )
Rak dan tabung reaksi
gelas ukur dan pipet tetes spatula
5.2
gambar hasil penelitian
( air + minyak ) ( bensin+minyak) (minyak+Na2CO3)
(
minyak+kloroform) (minyak+alcohol)
8.
kesimpulan
Ada beberapa macam
lemak semuanya bersifat non polar.. Karena struktur molekulnya yang kaya akan
rantai unsur karbon(-CH2-CH2-CH2-)maka lemak mempunyai sifat hydrophob. Ini
menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut di dalam air.
Kandungan larutan yang bersifat sama dengan lemak ( non polar ) akan menyatu dalam satu
larutan yang disebut homogeny begitu sebaliknya bila tak sama dengan lemak (
non polar ) akan bersifat heterogen. Lemak dapat larut hanya di larutan yang
apolar atau organik seperti: eter, Chloroform, atau benzol. Tetapi, hasil
penelitian ini chloroform tidak bias menyatu dalam kandungan lemak.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, Chairil, dkk. (1996). Pengantar Praktikum Kimia
Organik. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, DIKTI.
Ketaren, S. (1986). Pengantar Teknologi Minyak
dan Lemak Pangan.
Jakarta: UI-Press.
Mathews, K. C., K. E. van Holde.
(1991). Biochemistry. New York: The Benjamin/Cummings
Company.
Sunaryo, H. dkk. (1985). Pengaruh Pemberian
Kurkuminoid Curcuma Domestica val terhadap Kadar Kolesterol HDL Serum Tikus Putih. Simposium Temulawak.
Sudarmadji, Slamet, Suhardi, Bambang
Haryono. (1989). Analisa
Bahan Pangan dan Pertanian.
Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM.
PERCOBAAN V
ENZIM
OLEH
TRI HARDIANTO ABRIAN
134110223
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
PERCOBAAN
V
ENZIM
Tujuan
Instruksional Khusus
Pada akhir percobaan
mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengerti hal-hal sebagai berikut :
a. Membandingkan dan
mengidentifikasi kandungan pati
b. Mengetahui cara
kerja amylase
1.
Dasar Teori
Keempukan daging banyak
ditentukan setidak-tidaknya oleh 3 komponen daging, yaitu struktur miofibrilar
dan status konstraksinya, kandungan jaringan ikat dan tingkat ikatan silangnya
dan daya ikat air oleh protein serta jus daging.
Kolagen didegradasi
pada temperatur yang lebih tinggi, karena protein alami tahan terhadap
proteolisis oleh papain dan protein tanaman lain yang sejenis. Papain, bromelin
dari nenas menghasilkan perubahan keempukan awal dan residu serabut-serabut
jaringan ikat, sedangkan proteolik tunggal dan bacterial hanya mempengaruhi
keempukan awal terhadap protein - protein serabut otot.
Penambahan larutan
enxim pada potongan-potongan daging yang tipis sebelum pemasakan, misalnya
melalui lubang-lubang tusukan garpu, akan memudahkan penetrasi larutan yang
mengandung enzim proteolik tanaman juga dapat dipergunakan, namun enzim
biasanya tidak cukup mampu memasuki daging, sehingga bagian dalam daging tidak
terpengaruh. Keempukan daging kering beku dapat ditingkatkan dengan cara
rehidrasi didalam larutan yang mengandung enzim-enzim proteolik.
1.1.
Bromelin
1.1.1.
Bahan dan Alat
-
Bahan
a.
Daging
b.
Jus nanas
- Alat
a.
Beaker glass
b.
Spatula
c.
alat pendingin
1.1.2
gambar
bahan dan alat
( bahan )
Daging jus
nanas
(
alat )
Beaker glass spatula lemari pendingin
1.2.
Papain
1.2.1
Bahan dan Alat
- Bahan
a.
Daging
b.
Papain
- Alat
a.
Beaker glass
b.
spatula
c.
pendingin
1.2.2 gambar bahan dan alat
( bahan )
Daging jus
pepaya
(
alat )
Beaker glass spatula lemari pendingin
1.3.
Amilase
Tujuan
Instruksional Khusus
Pada akhir percobaan
mahasiswa diharapkan dapat memahami dan mengerti hal-hal sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi
kandungan pati dalam tape
b. Mengetahui cara
kerja amilase pada ragi tape
1.3.1
Dasar Teori
Pati disusun oleh
amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan polisakarida yang linier, sedangkan
amilopektin adalah yang bercabang. Tiap jenis pati tertentu disusun oleh kedua
fraksi tersebut dalam perbandingan yang berbeda-beda. Pada pati jenis yang
rekat (addesif) amilosa dalam pati berkisar antara 20-30% pati pada beras dan
sorgum sebagian terbesar penyusunnya adalah amilopektin.
Pemisahan antara fraksi
amilosa dan amilopektin dapat menggunakan elektrodialisa atau dengan n –
butanol atau thymol. Amilopektin larut dalam n – butanol sedangkan amilosa
tidak larut. Amilosa memberikan warna biru dengan larutan iodine dan
amilopektin memberikan warna merah violet.
1.3.2
Bahan dan Alat
- Bahan
a.
Singkong rebus
b.
tape
c.
I2
- Alat
a.
Petridish
b.
Pipet tetes
1.3.3 gambar bahan dan hasil
(
bahan )
Singkong
rebus tape ( ragi ) I2
( alat )
Petridish pipet tetes
3.1 hasil pratikum
( bromelin )
Suhu
kamar pendingin
( papain )
Suhu
kamar pendingin
( amylase )
Singkong ( biru ) tape ( violet )
6.
kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
a.
Suhu mempengaruhi kerja
enzim, yaitu bahwa suhu kamar akan membuat enzim bereaksi lebih optimal
b. Enzim bromelin dan enzim papain mampu menguraikan
serat-serat daging sehingga daging menjadi lebih empuk.
c.
Buah nanas mengandung
enzim bromelin yang dapat melunakkan daging
d.
Enzim papain mampu
melakukan proses pemecahan jaringan ikat yang disebut proses proteolitik.
e. Amilosa memberikan warna biru dengan larutan iodine dan
amilopektin memberikan warna merah violet.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumardjo D. Pengantar Kimia. EGC. 2009: 389-421.
Timotius, K.H, 1982, Mikrobiologi
Dasar; Salatiga, Universitas Kristen Satya
Wacana
Penuntun Praktikum Biokimia 1976. Edisi 4. Biokimia FK-UI. Jakarta
;. 98-112
BIOKIMIA” Eksperimen Laboratorium”. Penerbit Widya Medika. 2000. Bagian
Biokimia FK-UI. Jakarta; 50-65.




0Awesome Comments!