PRAKTIKUM BIOLOGI
Nama :
Tri Hardianto Abrian
NPM :
134110223
Lokal :
C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
Lembar Pengesahan
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI
Disusun oleh
Nama : Tri Hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
Dosen Pengasuh Asisten Pembimbing
( ) ( )
KATA PENGANTAR
Assalamuaalaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan praktikum
yang berisikan “praktikum biologi”
tepat pada waktunya. Laporan praktikum
ini diharapakan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi teman-teman
semua dan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam proses pembelajaran.
Sehingga besar harapan saya, laporan praktikum
yang kami sajikan dapat menjadi kontribusi positif bagi pengembangan wawasan
pembaca.
Akhirnya kami menyadari dalam
penulisan laporan praktikum
ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami
menerima kritikan daan
saran agar bisa
membangun kesempurnaan laporan
praktikum ini. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi semua pihak.
Amin.
Waaslalmualaikum Wr.Wb.
Pekanbaru, 26
desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Lembar pengesahan……………………………………………………………………
Kata
Pengantar…………………………………………………………………………
Daftar
Isi……………………………………………………………………………….
I.
PENDAHULUAN…………………………………………………………………..
1.1.
Latar belakang……………………………………………………………...
1.2.
Tujuan………………………………………………………………………
II. LANDASAN TEORI ………………………………………………………………
III. METODE PRAKTIKUM………………………………………………………....
3.1
tempat dan waktu……………………………………………………………
3.2
alat dan bahan……………………………………………………………….
3.3
cara kerja……………………………………………………………………
IV. PEMBAHASAN…………………………………………………………………..
4.1.
Hasil pengamatan praktikum……………………………………………….
4.2.
Pembahasan………………………………………………………………...
4.3.
Dokumentasi pengamatan dan hasil praktikum…………………………….
IV.
PENUTUP…………………………………………………………………………
5.1.
Kesimpulan…………………………………………………………………
5.2 saran………………………………………………………………………..
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………….
HUBUNGAN TUMBUHAN DENGAN AIR
Nama : Tri
Hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Air adalah komponen yang
sangat di perlukan oleh setiap makhluk hidup dan 90 % dalam berat tumbuhan. Tetapi, jumlah air yang
terkandung setip tmbuhan akan berbeda-beda. Ada yang memerlukan air dengan
jumlah yang sangat banyak dan juga yang memerlukan hanya sedikit.
Dalam pembakaran pada daun
untuk mengahasilkan energy dengan proses fotosintesis sangat memerlukan air.
Karna, agar bisa lebih seimbang mengatur keseluruh tubuh pada tunbuhan
tersebut.
Apabila dalam tumbuhan
kekurangan kadar air yang cukup, terjadi lambatnya pertumbuhan dan proses
perkembangan yang lambat. sebagian tumbuhan tidak dapat bertahan hidup,layu dan
berakhir mati.
1.2 tujuan
untuk mengetahui berapa
kandungan air pada tumbuhan, dikhususkan terletak pada sampel daun.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
Menurut Dwidjoseputro (1990:92)
menyatakan bahwa, "transpirasi dapat melalui kutikula, stomata dan
lentisel. Sebenamya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan
tetapi yang biasanya dibicarakan hanyalah transpirasi lewat daun, karena
hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah
lewat daun. Hal ini
disebabkan karena luasnya permukaan daun dan juga karena daun-daun itu lebih
terkena udara daripada bagian-bagian lain dari suatu tanaman". Mengenai
penguapan yang terjadi di daun kita kenal penguapan melalui kutikula dan
penguapan melalui stoma. Kegiatan transpirasi terpengaruh oleh banyak faktor,
baik faktor dalam maupun faktor luar. Yang termasuk faktor dalam ialah
besar-kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapiskan lilin atau tidaknya
permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan, banyak sedikitnya stoma,
bentuk dan lokasi stomata. Sedangkan yang termasuk faktor luar adalah radiasi,
temperatur, kebasahan udara, tekanan udara,, angin keadaan air di dalam
tanah".
Menurut Lakitan (2010:40) menyatakan
bahwa, "di dalam tumbuhan, air berperan sebagai pelarut. Sruktur molekul
protein dan asam nukieat sangat ditentukan oleh adanya molekul air
disekitarnya. Berard juga aktivitas dari protein dan asam nukleat dapat
berlangsung karena adanya air di sekitamya. Selain protein dan asam nukleat,
aktivitas senyawa lain di dalam protoplasma juga ditentukan oleh adanya air.
Walaupun air dapat bertindak sebagai bahan pereaksi(reaktan) atau sebagai
produk suatu reaksi kimia, tetapi yang iebth penting adalah air menciptakan
lingkungan yang memungkinkan untuk benlangsungnya berbagai reaksi biokimia
dalam sel tumbuhan".
Anonimus (2010) air adalah pelarut
terbaik yang sangat penting bagi tanaman, air juga sangat penting bagi
keliidupan tanaman. Air merupakan 90-95% penyusun tanaman, aktivator enzim,
pereaksi dalam reaksi hidrolisis, sumber H dalam fotosintesis, penghasil 02
dalam fotosintesis, pelarut dan pembawa berbagai senyawa, mengatur keluar
masuknya zat terlarut ke dan dari sd, mendukung tegaknya tanaman terutaina pada
tanaman herbacius, mempertahankan suhu tanaman tetap konstan path saat cahaya
penuh.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat
dan Waktu
Tempat : laboratrium dasar , universitas islam riau
Waktu : Minggu, 8 Desember 2013
3.2 Alat dan Bahan.
1.
Timbangan
2.
Alat tulis
3.
daun jambu biji, daun melinjo dan daun sawo
3.3 Cara kerja:
1. Mengambil
daun sampel yang masih
segar, normal dan daun ini
tidak terlalu mudah dan tidak terlalu tua.
2. Timbang
daun tersebut dan catat keadaan fisik daun tersebut.
3.
Jemur dan membiarkan
daun tersebut pada udara terbuka
sampai 2 minggu dan ditimbangn kembali beratñya, lalu
mencatat perubahan fisik yang terjadi tersebut.
4. Menghitung
berapa banyak air yang hilang dari daun tersebut.
Rumus mencari kadar air
Kadar Air =BB—BK xl00%
BK
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan praktikum
|
No
|
Nama daun
|
Berat basah
|
Berat kering
|
Kadar air
|
|
1
|
Sawo a
|
0.59
|
0.26
|
12,7 %
|
|
2
|
Sawo b
|
0.62
|
0.23
|
17,0 %
|
|
3
|
Sawo c
|
0.55
|
0.24
|
13,0 %
|
|
4
|
Melinjo a
|
1.95
|
0.50
|
29,0 %
|
|
5
|
Melinjo b
|
2,22
|
0.54
|
31,1 %
|
|
6
|
Melinjo c
|
2.45
|
0.64
|
28,3 %
|
|
7
|
Jambu biji a
|
1.01
|
0.58
|
7,4 %
|
|
8
|
Jambu biji b
|
1.29
|
0.53
|
14,3 %
|
|
9
|
Jambu biji c
|
0.89
|
0.36
|
14,7 %
|
4.2 pembahasan
Dari tabel dapat dilihat bahwa kadar
air untuk tiap-tiap jenis tanaman berbeda-beda. Kadar air pada daun dan herba (
melinjo dan jambu) lebih tinggi daripada kadar air pada daun sawo. Hal ini
sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1980) yang menyatakan bahwa kadar air
dari berbagai macam tanaman berbeda dimana tanaman herbacius lebih banyak
mengandung air dari tanaman lignosus.
Sedangkan menurut Salisbury
dan Ross (1995), keadaan air tanah sangat mempengaruhi tingkat transpirasi dan
respirasi biar persediaan air dalam tanah berkurang maka transpirasi jelas akan
berkurang sebagai penutupan stomata. Hal ini juga mempengaruhi benyaknya
keberadaan air pada setiap tumbuhan. Setiap umbuhan sangat memerlukan air dalm
kehidupannya dan proses yang ada didalam tubuhnya dan salah satu pokok penting
makhluk hidup. Ketika daun masih mengandung air dan klorofil, daun berwarna
hijau dan hijau tua. Tetapi, ketika daun kering berubah menjadi kecoklatan dan
kusam.
4.3 Dokumentasi pengamatan
dan hasil praktikum
4.3.1 Dokumentasi
pengamatan
4.3.2 hasil
praktikum
Bagian daun
basah
Sawo a sawo
b sawo
c
Melinjo
a melinjo
b melinjo
c
Jambu biji a jambu biji b jambu biji c
Bagian daun kering
Sawo a sawo
b sawo
c
Melinjo a melinjo
b melinjo
c
Jambu biji a jambu
biji b jambu
biji c
4.3.3 tugas praktikum
1. Apakah fungsi air bagi tanaman?
·
Penyusun tubuh
tanaman
·
Pelarut dan
medium reaksi biokimia
·
Medium transpor
senyawa
·
Memberikan
turgor bagi sel (penting untuk pembelahan sel dan pembesaran sel)
·
Bahan baku
fotosintesis
·
Menjaga suhu
tanaman supaya konstan
2.
Berapa persen air yang ada pada tanaman.?
·
Sekitar 70%-90%
3.
Disebut proses apakah hilangnya air pada tanaman dan jelaskan bagaimana itu
bisa teijadi.?
·
transpirasi
adalah proses keluarnya air dalam tubuh tumbuhan dalam bentuk uap.
·
Laju transpirasi
dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara,
kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku
stoma yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel
penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma
terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang
ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan
fotometer. (Saisbury dan Ross, 1992).
BAB V
PENUTUP
5.1
kesimpulan
·
Air sangat
penting dam kehidupan makhluk hidup khususnya pada tumbuhan
·
Tumbuhan
mengandung air lebih kurang 70% - 90%
·
Pada tumbuhan
yang di uji terdapat pada tumbuhan herba ( melinjo dan jambu biji ) yang
mengandung kadar air tertinggi dari pada pada daun sawo.
5.2 pesan
Setelah
melaksanakan praktikum ini, dapat kami sarankan kepada praktikan agar
berhati-hati dalam melaksanakan pengukuran. Dan kita dapat lebih dalam tentang
fisiologi tumbuhan dan dipraktekan di lingkungan pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, dkk. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima.
Jakarta;Erlangga.
Dwidjoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lakitan, Benyamin.2010.Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Jakarta: Raj awali pers. Anonim. Pengukuran Biodiversitas.
Wilkins, B. malcom . 1990. Fisiologi tanaman . bumi
aksara : Jakarta
Salisbury and Ross.1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB :
Bandung
MEMBUAT
PERANGKAP SERANGGA TANAH
Nama : Tri
hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
serangga
merupakn hewan yang unuk dan banyak versi yang mngagumkan. Sebagain seranga
digunakan sebagai fosil dan penelitian yang memelki kelebihan dibandingkan
hewan yang lainnya.
Bermacam serangga yang ada di alam seperti kecoa,
belalang, kepik dan sebagainya. Serangga terbagi menjadi dua bagian yakni
srangga yanga menguntungka sperti lebah, dan kupu-kupu. Serangga yang merugikan
seperti lalat,nyamauk, jangkrik dll.
Para ahli melakukan penelitian dalam menangkap
serangga dalam betuk yang sesuai yang dimiliki serangga dengan membuat pemikat
seranngga. Serangga akan masuk terperangkap dan susah untuk lepas seperti lampu
disisipkan plastic berminyak, perangkap kuning yang menyerupai kelopak bunga
dengn member lem serangga dll.
1.2 tujuan
agar kita mengetahui jumlah serangga yang terjerat
dalam sebuah jebakan serangga.
BAB II
LANDASAN TEORI
Serangga merupakan makhluk hidup yang
mendominasi bumi. Kurang lebih 1 juta spesies serangga telah dideskripsi
(dikenal dalam ilmu pengetahuan), dan diperkirakan masih ada sekitar 10 juta
spesies serangga yang belum dideskripsi (Tarumingkeng, 2001, dalam Ruslan,
2009). Keanekaragaman yang tinggi dalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan
perilaku adaptasi dalam lingkungannya, dan demikian banyaknya jenis serangga
yang terdapat di muka bumi, menyebabkan banyak kajian ilmu pengetahuan, baik
yang mumi maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model.
Serangga merupakan hewan beruas dengan
tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke
masa Ordovicius. Fosil kecoa dan capung raksasaprimitif telah ditemukan.
Sejumlah anggota Diptera seperti lalat dan nyamuk yang terperangkap pada getah
juga ditemukan. Hewan mi juga merupakan contoh kiasik metamorfosis. Setiap
serangga mengalami proses perubahan bentuk dari telur hingga ke bentuk dewasa
yang siap melakukan reproduksi. Pergantian tahap bentuk tubuh mi seringkali
sangat dramatis. Di dalam tiap tahap juga terjadi proses "pergantian
kulit" yang biasa disebut proses pelungsungan. Tahap-tahap mi disebut
instar. Ordo-ordo serangga seringkali dicinikan oleh tipe metamorfosisnya
(Isfaeth, 2010).
Secara
morfologi, tubuh serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga bagian utama,
sementara bentuk pradewasa biasanya menyerupai moyangnya, hewan lunak beruas
minip cacing. Ketiga bagian tubuh serangga dewasa adalah kepala (caput), dada
(thorax), dan perut (abdomen).
Serangga mampu hidup dimanapun, bahkan
ada serangga yang mampu hidup tanpa oksigen sekalipun. Hal mi dikarenakan
serangga mampu beradaptasi dengan segala kondisi yang membuat variasi morfologi
sesuai dengan cam adaptasi mereka dengan lingungannya. Ada serangga yang mampu
terbang, serangga yang hidup di air dan banyak yang hidup di terestrial atau
diatas permukaan tanah.
Serangga tanah adalah serangga yang
hidup di tanah, baik yang hidup di permukaan tanah maupun yang terdapat di
dalam tanah (Suin,1997 ) Penguraian akan menjadi lebih sempurna apabila hasil
ekskresi fauna mi dihancurkan serangga
pemakan bahan organik yang mambusuk,
membantu merubah zat-zat yang
membusuk
menjadi zat-zat yang lebih sederhana. Banyak jenis serangga yang sebagian atau
seluruh hidup mereka di dalain tanah. Tanah tersebut memberikan serangga suatu
pemukiman atau sarang, pertahanan dan seringkali makanan.
Tanah tersebut diterobos sedemikian rupa
sehingga tanah menjadi lebih mengandung udara, tanah juga dapat diperkaya oleh
hasil ekskresi dan tubuhtubuh serangga yang mati. Serangga tanah memperbaiki
sifat fisik tanah dan menambah kandungan bahan organiknya (Borror dkk., 1992).
Wallwork (1976) dalam Ruslan (2009), menegaskan bahwa serangga tanah juga
berfungsi sebagai perombak material tanaman dan penghancur kayu. Szujecki
(1987) dalam Rahmawaty (2000), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
keberadaan serangga tanah di hutan, adalah, struktur tanah berpengaruh path
gerakan dan penetrasi, kelembaban tanah dan kandungan hara berpengaruh terhadap
perkembangan dalam daur hidup, suhu tanah mempengaruhi peletakan telur, cahaya
dan tata udara mempengaruhi kegiatannya. Jumlah famili dan individu serangga
pemiukaan tanah dari Ordo Coleoptera, Diptera dan Hymenoptera lebih banyak
ditemukan dibandingkan dengan ordo yang lain.
Hal ini
dapat disebabkan karena serangga tersebut merupakan serangga yang umum dan
banyak jumlah suku yang beraktivitas di permukaan tanah (Borror dkk, 1992).
Aktifitasnya sebagai dekomposer dalani ekosistem sangat berperan penting bagi
kehidupan. Serangga tanah merupakan salah satu kelompok serangga yang memegang
peranan penting dalam ekosistem. Serangga tanah memiliki kemampuan untuk
berathptasi di permukaan tanah dan di dalam tanah. Serangga permukaan tanah
dapat melubangi tanah sehingga tanah menjadi lebih mengandung udara.
Menurut Safrmnet, 2000, pit fall trap
adalah suatujebakan yang menggunakan gelas pelastik, pot tanarnan, yang
digunakan untuk menjebak bunmg atau serangga yang tidak terbang khususnya
kumbang, laba laba, pseudoscorpion, belalang dan yang yang hidup di atas
pemukaan tanah. Gelas ditempatkan di lubang yang rata dengan tanah. Dalam
perangkap diisi dengan suatu larutan yang mampu membunuh dan mengawetkan
serangga yang terjebak. Penambahan umpan kedalam jebakan bisa membuat
jebakan semakin efektif.
Tipe jenis umpan bergantung spesimen apa yang ingin didapatkan.
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Tempat
dan Waktu
Tempat : kebun karet fakultas pertanian , universitas islam riau
Waktu : Minggu-kamis, 8-12 Desember 2013
3.2 Alat dan bahan
Alat:
1.
Gelas plastik
2.
16 kayu sebagai penyanggah ukuran +20 cm
3.
tempurung 4 buah
Bahan:
1.
Air gula
2.
Urin
3.
Minyak tanah
4.
Air deterjen
3.3 Cara kerja
1.
Menentukan titik penempatan
jebakan.
2.
Membuat lubang di tanah sebesar mulut gelas jebakan.
3.
Meletakkan gula,
minyak tanah, air deterjen, dan urin pada setiap gelas plastik sebagai umpan.
4.
Menutup gelas plastik yang telah diberi
umpan dengan jarak
5 cm dengan mulut gelas dan menggunakan
kayu sepanjang 20 cm
sebagai penyangga.
5.
Meletakkan gelas yang telah diberi umpan ke dalam tanah dan pastikan mulut
botol telah rata dengan tanah. Jarak antara satu gelas dengan yang lainnya
adalah satu meter.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan praktikum
·
table perangkap
gula
|
No
|
tanggal
|
Jenis serangga
|
jumlah
|
|
1
|
9 desember 2013
|
Semut halus(kecil)
|
banyak
|
|
2
|
10 desember 2013
|
Semut halus (kecil)
|
Makin banyak
|
|
3
|
11 desember 2013
|
Semut halus (kecil)
|
Makin banyak
|
|
4
|
12 desember 2013
|
Semut halus (kecil) dan jangkrik kecil
|
Makin banyak dan satu
|
·
table perangkap minyak tanah
|
No
|
tanggal
|
Jenis serangga
|
jumlah
|
|
1
|
9 desember 2013
|
Semut besar (hitam)
|
1
|
|
2
|
10 desember 2013
|
Semut besar (hitam)
|
1
|
|
3
|
11 desember 2013
|
Semut besar (hitam)
|
1
|
|
4
|
12 desember 2013
|
Semut besar (hitam)
|
1
|
·
table perangkap deterjen
|
No
|
tanggal
|
Jenis serangga
|
jumlah
|
|
1
|
9 desember 2013
|
-
|
-
|
|
2
|
10 desember 2013
|
jangkrik
|
1
|
|
3
|
11 desember 2013
|
Jangkrik dan rengit
|
1 dan 10
|
|
4
|
12 desember 2013
|
Jangkrik dan rengit
|
1dan 10
|
·
table perangkap uri
|
No
|
tanggal
|
Jenis serangga
|
jumlah
|
|
1
|
9 desember 2013
|
-
|
-
|
|
2
|
10 desember 2013
|
-
|
-
|
|
3
|
11 desember 2013
|
Jangkrik sedang
|
2
|
|
4
|
12 desember 2013
|
Jangkrik sedang
|
2
|
4.2 pembahasan
Setelah
tercantum dalam table diatas, bahwa lebih banyak perangkap serangga pada gula.
Karena gula salah satu yang paling disukai oleh serangga. Pada perangkap
minyak, uri dan deterjen hanya mayoritas hewan jangkrik. Jangkrik merupak hewan
yang lincah dan merusak tanaman. Memiliki kaki yang bergerigi yang bias
melompat seperti katak. sering kali terdapat jangkrik pada perangkap yang telah
tersedia. Karena saat jangkrik jatuh pada permukaan air dan susah untuk
melompat dan akhirnya mati.
4.3 dokumentasi pengamatan dan hasil
pratikum
·
pengamatan
·
hasil pratikum
hari
pertama
Gula minyak
tanah
Deterjen
urin
Hari kedua
Gula
minyak
tanah
Gula urin
Hari ketiga
Gula
minyak
tanah
Deterjen urin
Hari ke-empat
Gula
minyak tanah
Deterjen urin
BAB V
PENTUTUP
5.1
kesimpulan
Sarangga merupakan hewan yang memiki
kelebihan dalam penciuman dan salah satu hewan 2 kelompok yakni mengutungkan
dan merugikan. Perangkap sarangga sangat mudah,
yang dapat merengkam serangga .
5.2
saran
Dalam percobaan ini haru memiliki
strategi dalm membuat suatu perangkap serangga. Memahami dan mengerti sesuatu
perangkap yang membuat serangga berkumpul dalam jumlah yang banyak dalam waktu
yang singkat.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell,
dkk. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta;Erlangga.
Wirakusumah,
Sambas. 2003. Dasar-Dasar Ekologi bagi Populasi dan Komunitas.
MENGAMATI
KECEPATAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA KACANG HIJAU
Nama :
Tri Hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah tumbuh
dan berkembang. Pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan besarnya sel
diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif
dapat diukur atau suatu peningkatan dalam berat atau ukuran dari
seluru/sebagian dari organisme, sedangkan perkembangan merupakan bertambahnya
fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan dan belajar
atau peningkatan kemahiran dalam penggunaan tubuh (Sacharin,1996).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan
proses yang saling berhubungan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan pekembangan tumbuhan. Faktor-faktor tersebut dikelompokan menjadi 2, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang meliputi faktor genetis
(hereditas) dan factor fisiologis, sedangkan faktor eksternal atau faktor
lingkungan merupakan faktor yang berasal dari luar tubuh tumbuhan tersebut
yaitu dari lingkungan atau ekosistem.
2.
TUJUAN
Mengetahui kecepatan pertumbuhan dan
perkembang biakan pada tumbuhan kacang hijau.
BAB II
DASAR TEORI
Pertumbuhan
adalah proses bertambahnya ukuran (diantamya volume, massa, dan tinggi) serta
jumlah sel secara irreversible (tidak dapat kembali ke bentuk semula).
Pertumbuhan bersifat kuantitatif (dapat diukur) menggunakan auksanometer.
Pertumbuhan terjadi karena pertambahan jumlah sel dan pembesaran sel. Proses mi
terjadi akibat pembelahan mitosis pada jaringan bersifat meristematik. Contoh,
pertambahan tinggi batang danjumlah daun.
Perkembangan adalah proses
terspesialisasi sel menuju ke bentuk dan fungsi tertentu yang mengarah ke
tingkat kedewasaan yang bersifat kualitatif (tidak dapat dihitung) dan
irreversible. Contoh, munculnya bunga sebagai alat perkembangbiakan.
Tahapan
Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan
Pertumbuhan
dan perkembangan pada tanaman diawali dengan perkecambahan biji.
1. Perkecambahan adalah munculnya
plantula (tanaman kecil dari dalam biji) karena pertumbuhan embrio di dalam
biji menjadi tanaman baru. Embrio terdiri dari akar lembaga (calon akar =
radikula), daun lembaga (kotiledon) dan batang lembaga (kaulikulus).
A.
Struktur Biji
Pada biji tanaman dikotil maupun
monokotil: Epikotil (bagian atas kotiledon) di ujung epikotii terdapat Plumula
(ujung batang & calon daun) merupakan poros embrio yang tumbuh ke atas yang
seianjutnya akan tumbuh menjadi daun pertama, sedangkan Hipokotil (bagian bawah
kotiledon) di ujungnya terdpat radikula (calon akar) adalah poros embrio yang
tumbuh ke bawah dan akan menjadi akar primer.
Pada tanaman monokotil, misalnya jagung,
kotiledon mengalami modifikasi menjadi skutelum dan koleoptil. Skutelum
berfungsi sebagai alat penyerap makanan yang terdapat di dalam endosperma,
sedangkan koleoptil berfungsi melindungi plumula. Selain itu, Pada biji dikotil yang
berkecambah, embrio menyerap nutrient dan endospemia (cadangan makanan)
sehingga kotiledon mengecil pada akhimya kisut dang lepas.
B.
Proses Perkecambahan
Proses Fisika, (a) Terjadi ketika biji
menyerap air (imbibisi) akibat dan potensial air rendah pada biji yang kening.
Proses Kimia, (b) Air yang masuk mengaktifkan embrio untuk melepaskan hormone giberelin
(GA). (c) Hormon GA mendorong aleuron (lapisan tipis bagian luar endosperma)
untuk sintesis dan mengeluarkan enzim. (d) Enzim bekerja menghidro!isis
cadangan makanan yang terdapat dalam kotiledon dan endosperma. Proses mi
menghasilkan molekul kecil larut dalam air, missal enzim amylase menghidrolisis
pati dalam endosperma menjadi gula. Selanjutnya gula dan zat lain diserap dari
endosperma oieh kotiledon selama pertumbuhan ernbrio menjadi bibit tanaman.
C.
Macam Perkecambahan
Berdasarkan
Jetak kotiledon pada saat perkecambahan, ada dna tipe perkecambahan, yaitu:
1. Perkecambahan
Epigeal
Ciri Perkecambahan ini Terangkatnya
kotiledon dan plamula ke permukaan tanah. Pemanjangan terjadi pada bagian
hipokotil (ruas batang dibawah kotiledon). Perkecambahan ini umumnya terjadi pada
biji tanaman Dicotyledoneae (kecuali kacang kapri), contob kacang hijau, kacang
kedelai, kapas.
2.
Perkecambahan Hipogeal
Ciri
Perkecambahan ini
: Tertinggalnya kotiledon didalam tanah, sedang plamula tetap menembus tanah.
Pemanjangan teijadi pada epikotil (ruas batang diatas kotiledon). Umumnya
terjadi pada biji monocotyleddoneae, contoh Jagung, padi. dan Dicotyledoneae
yaitu hanya kacang kapri.
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Tempat
dan Waktu
Tempat : laboratrium dasar , universitas islam riau
Waktu : 10-19 Desember
2013
3.2. Alat dan Bahan
Penelitian
Alat dan Bahan yang digunakan:
1. Biji kacang hijau
2. Polibek hitain/gelas aqua bekas 10
buah
3.Tanah
4. Air
5. Alat-alat tulis
3.3. Cara Kerja Peneitian
1.
Sediakan sepuluh
buah aqua yang diisi dengan
tanab berkualitas sama
2.
Letakkan 2
biji kacang hijau kedalam polibek
4. Berii
label "IA,
2A sampek 5A pada aqua yang
akan diletakkan pada
tempat terang, dan label
"lB 2B sampek SB untuk tempat gelap
5. Untuk tempat gelap, agar terhindar
dari cahaya matahari tempatkan
di ruang yang gelap.
6. Siramlah kacang hijau setiap hari
7. Ukur dan amati setiap pertumbuhan dan
perkembangan kacang hijau setiap harinya.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan praktikum
Table
pengamatan pertumbuhan kacang hijau di tempat terang
|
Hari
ke
|
Pertumbuhan cm
|
Rata-rata
cm
|
||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
||
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
2
|
0,6
|
0,5
|
0,5
|
0.6
|
0.5
|
0.54
|
|
3
|
3
|
2
|
1
|
3
|
1
|
2
|
|
4
|
7
|
6
|
5
|
9
|
5
|
6.4
|
|
5
|
11
|
11
|
9
|
12
|
8.5
|
10.3
|
|
6
|
20
|
18
|
17
|
19.5
|
13
|
17.5
|
|
7
|
24
|
23
|
22
|
20
|
14.5
|
20.7
|
|
8
|
24.5
|
24
|
23
|
21
|
16
|
21.6
|
|
9
|
26
|
24
|
23
|
22
|
19
|
22.8
|
|
10
|
27
|
25
|
25
|
23
|
19
|
23.8
|
Table pengamatan perkembangan kacang hijau di tempat
terang
|
Hari-ke
|
Perkembangan
|
|
1
|
|
|
2
|
Akar mulai menembus tanah dan sebagai plamula mulai tampak |
|
3
|
Akar mulai menamcap ketanah, Hipokotil keatas dan warna biji hijau muda |
|
4
|
Akar menancap kokoh ketanah, daun muncul bewarna hijau keluar dari
kataledon dan batang hijau kuat |
|
5
|
Daun terbuka semuanya dan mengarah kematahari |
|
6
|
Daun makin tebal dan bewarna hijau segar |
|
7
|
Tumbuhan segar dan batang kokoh |
|
8
|
Batang memanjang berwarna hijau
tua berbulu dan daun melebar
|
|
9
|
Kataledon mulai lepas
|
|
10
|
Akar mulai bercaba-cabang dan telah melingkari area tanah dalam aqua
|
Table pengamatan pertumbuhan
kcang hijau di tempat gelap
|
Hari
Ke
|
Pertumbuhan cm
|
Rata-rata
Cm
|
||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
3
|
2
|
5
|
3
|
5
|
2.5
|
4.1
|
|
4
|
3
|
9
|
9
|
9.2
|
5.5
|
7.14
|
|
5
|
3
|
14
|
14
|
10
|
12
|
10.6
|
|
6
|
14
|
24
|
25
|
22
|
20
|
21
|
|
7
|
23
|
28
|
30
|
27
|
27
|
27
|
|
8
|
28
|
30
|
32
|
28
|
30
|
29.6
|
|
9
|
29
|
31
|
34
|
30
|
33
|
31.4
|
|
10
|
30
|
32
|
37
|
32
|
35
|
33.2
|
Table pengamatan perkembangan kacang hijau di tempat
gelap
|
Hari-ke
|
Perkembangan
|
|
1
|
|
|
2
|
Akar mulai menembus tanah dan sebagai plamula mulai tampak |
|
3
|
Akar mulai menamcap ke tanah, Hipokotil keatas dan warna biji kuning muda
dan ada juga bewarna merah muda |
|
4
|
Akar menancap kokoh ke tanah, daun muncul tapi menguncup kekuningan dan
batang putih pucat |
|
5
|
Daun masih mengatup,Batang lemah pucat dan tumbuh menyebar |
|
6
|
Daun kuning tetap menguncup, Batang makin pucat dan lemah |
|
7
|
Tumbuhan pucat, daun tidak berkembang |
|
8
|
Batang makin memanjang dan
pucat putih, daun berwarna kuning keputihan
|
|
9
|
Daun berukuran kecil dan daya tubuhnya sangat
lemah
|
|
10
|
Batang memulai agak layu
dan batang makin panjang, daun mulai mengkerut
|
4.2 pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan telah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan dan
perkembangan di tempat yang terkena cahaya dan yang tidak terkena cahaya
(gelap). Hal ini menunjukkan bahwa cahaya mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan kacang hijau.
Apabila ditanam di tempat
gelap, maka tanaman kecambah akan tumbuh lebih panjang daripada normalnya.
Peristiwa itu terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin.
Fungsi utama hormon auksin adalah sebagai pengatur pembesaran sel dan memacu pemanjangan
sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin ini sangat peka terhadap
cahaya matahari. Bila terkena cahaya matahari, hormon ini akan terurai dan
rusak. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan
terus memacu pemanjangan batang. Akibatnya, batang tanaman akan lebih panjang
jika ditanam di tempat yang gelap, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang
kurang sehat, akar yang banyak dan lebat, batang terlihat kurus tidak sehat,
warna batang dan daun pucat serta kekurangan klorofil sehingga daun berwarna
kuning. Peristiwa ini disebut etiolasi
Jika ditanam di tempat
terang, maka kecambah akan tumbuh lebih pendek daripada yang ditanam di tempat
gelap. Peristiwa itu juga terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, hormon auksin ini akan terurai dan rusak
sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak terlalu cepat. Akibatnya, batang
tanaman akan lebih pendek, tetapi dengan kondisi fisik tanaman yang sehat,
subur, batang terlihat gemuk, daun terlihat segar dan berwarna hijau serta
memiliki cukup klorofil.
4.3. Dokumentasi pengamatan dan hasil pratikum
·
. pengamatan
Kacang
hijau terang
Kacang
hijau gelap
2. Hasil Pratikum
Hari 2 terang
Sampel
1
sampel 2
sampel 3
Sampel
4 sampel
5
Hari 2
gelap
Sampel
1 sampel
2 sampel
3
Sampel
4 sampel
5
Hari 3
terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 3
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 4
terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 4
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 5
terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 5
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 6
terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 6
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel
4 sampel
5
Hari 7 terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel
4 sampel
5
Hari 7 gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 8
terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 8
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 9 terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 9
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel
4 sampel
5
Hari
10 terang
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel 4 sampel 5
Hari 10
gelap
Sampel 1 sampel 2 sampel 3
Sampel
4 sampel
5
BAB V
PENUTUP
5.1 kesimpulan
Dari hasil penelitian
pengaruh faktor cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau,
dapat disimpulkan bahwa cahaya dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan membutuhkan cahaya. Namun, banyak
sedikitnya cahaya yang dibutuhkan tiap tumbuhan berbeda-beda, begitu pula
dengan tumbuhan kacang hijau.
Dari penelitian yang telah
dilakukan terhadap pertumbuhan dan perkecambahan biji kacang hijau, biji kacang
hijau yang diletakan ditempat gelap dan terang akan mempunyai perbedaan. Biji
kacang hijau yang terkena cahaya matahari secara langsung (terang)
pertumbuhannya lebih lambat, daunnya lebar & tebal, berwarna hijau, batang
tegak, kokoh. Sedangkan, biji kacang hijau yang tidak terkena cahaya matahari
(gelap) pertumbuhannya lebih cepat tinggi (etiolasi) dan daunnya tipis,
berwarna pucat, batang melengkung tidak kokoh. Hal ini terjadi karena cahaya
memperlambat/menghambat kerja hormone auksin dalam pertumbuhan meninggi
(primer). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang telah dibuat
sebelumnya telah benar.
5.2. Saran
Sebaiknya, percobaan
dilakukan dalam waktu yang lebih lama agar terlihat lebih jelas dan lebih
detail dalam menyimpulkan perbedaan antara tumbuhan yang berada ditempat terang
dan berada ditempat gelap. Juga peralatan yang lebih komplit dan modern,
seperti bukan menggunakan mistar tetapi menggunakan auksanometer agar hasil
lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, dkk. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima.
Jakarta;Erlangga.
Dwidjoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lakitan, Benyamin.2010.Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.
Jakarta: Raj awali pers. Anonim. Pengukuran Biodiversitas.
Wilkins, B. malcom . 1990. Fisiologi tanaman . bumi
aksara : Jakarta
Salisbury and Ross.1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB :
Bandung
MORFOLOGI
BUNGA
Nama :
Tri Hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Bunga
merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae. Berbagai pendapat
mengemukakan bahwa organ-organ bunga berasal langsung dari daun lebar. Akan
tetapi dalam pengertian umum yang diterima pada saat ini bahwa daun dan batang
merupakan unit tunggal yang diistilahkan sebagai pucuk dan dapat kita lihat
perkembangan dari bunga yang paralel dengan perkembangan vegetatif bukanlah
berasal dari keduanya.
Buang memeiliki tiga
kelompok yang membedakan yakni bunga sempurna, bunga tak sempurna dan banci.
pada umumnya bunga palingditemukan adalah bunga sempurna.
1.2 tujuan
mengetahui morfologi bunga yang membedakan bunga
sepurna dan tak sempurna
BAB II
LANDASAN TEORI
Beberapa jenis tanaman hias yang biasa
ada di rumahmu merupakan jenis tanaman yang memiliki bunga. Setiap tumbuhan
memiliki struktur bunga yang berbeda-beda. Bunga terdiri atas beberapa bagian,
yaltu tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, putik, dan benang sari.
Tangkai bunga merupakan bagian yang menghubungkan bunga dengan batang. Mahkota
bunga merupakan perhiasan bunga yang memiliki warna yang indah. Di da1am
mahkota bunga terdapat putik dan benang sari. Putik merupakan alat kelamin
betina, sedangkan benang sari merupakan alat ke1amn jantan.
Berdasarkan jenisnya, bunga
dikelompokkan menjadi dua yaitu bunga lengkap dan bunga tidak lengkap. Apabila
bunga memiliki kelopak bunga, mahkota bunga, putik, dan benang sari maka
disebut bunga lengkap. Sebaliknya, jika bunga tidak memiliki salah satu bagian
tersebut maka merupakan bunga yang tidak lengkap. Berdasarkan benang sari dan
putik, bunga dikelompokkan menjadi dua, yaitu bunga sempurna dan tidak
sempurna. Bunga sempurna merupakan bunga yang memiiki benang sari dan putik.
Apabila hanya memiiki salah satu di antaranya, maka termasuk bunga tidak
sempurna.
Fungsi
Bunga:
1.
Sebagai alat perkembang biakan generfatif
2.
Untuk menarik perhnatian seranggab dala,rn proses penyerbukan.
3.
Mengahasilkan biji
4.
Sebagai wadah menyatukan garnet jantan dan garnet betina.
5.
Memiliki nijlai estetika bagi penikmatnya.
6.
Sebagai tanaman obat.
•
Bagian-bagian Bunga
Meskipun bentuk bunga yang kita temukan
beraneka ragam tetapi setiap jenis bunga memiliki:
a.
Kelopak bunga, merupakan bagian bunga yang paling luar. Kelopak biasanya
berwarna hijau seperti daun atau berwarna warni seperti mahkota.
b.
Mahkota bunga, terletak di sebelah dalam kelopak dan biasanya mempunyai warna
yang beraneka ragam. Mahkota bunga berguna untuk inenarik serangga lain untuk
datang membantu penyerbukan.
c.
Benang sari, merupakan alat kelamin jantan yang terdiri dari tangkai sari dan
kepala sari. Benang sari biasanya terletak di tengah-tengah mahkota bunga.
d.
Putik, merupakan alat kelamin betina. Pada dasar putik terdapat bagian yang
akan menjadi buah dan biji.
BAB III
METODE
PRAKTIKUM
3.1 Tempat
dan Waktu
Tempat : mushollah al-ikhlas, gang sejahtera
Waktu : kamis, 26
Desember 2013
3.2 Alat dan bahan
1.
Alat-alat tulis.
Bahan.
1.
Bunga sepatu
2.
Bunga kertas
3.3 Cara kerja
1. Mengamati morfologi bunga sepatu
apakah termasuk bunga lengkap atau bunga tidak lengkap serta membuat gambar bunga
dan keterangan bunga sepatu dengan lengkap.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan praktikum
·
Bunga sepatu
|
1. Bunga
sempurna,
2. Kepala putik (stigma), 3. Tangkai putik (stilus), 4. Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), 5. Sumbu bunga (axis), 6. artikulasi, 7. Tangkai bunga (pedicel), 8.Kelenjar nektar, 9. Benang sari (stamen), |
10. Bakal
buah (ovum),
11. Bakal biji (ovulum), 13. Serbuk sari (pollen), 14. Kepala sari (anther), 15. Perhiasan bunga (periantheum), 16. Mahkota bunga (corolla), 17. Kelopak bunga (calyx). |
·
Bunga kertas
1.
Kelopak bunga
2.
Tangkai putik
3.
Kepala putik
4.
Tangkai bunga
4.2 pembahasan
Bunga merupakan modifikasi
suatu tunas (batang dan daun) yang bentuk, warna, dan susunannya disesuaikan
dengan kepentingan tumbuhan. Oleh karena itu, bunga ini berfungsi sebagai
tempat berlangsungnya penyerbukan dan pembuahan yang akhirnya dapat dihasilkan
alat-alat perkembangbiakan. Mengingat pentingnya bunga bagi tumbuhan maka pada
bunga terdapat sifat-sifat yang merupakan penyesuaian untuk melaksanakan
fungsinya sebagai penghasil alat perkembangbiakan.
-
Bunga Lengkap
Bunga lengkap adalah bunga
yang memiliki semua bagian-bagian bunga yaitu mahkota bunga, putik, benangsari,
kelopak bunga, dasar bunga dan tangkai bunga. Suatu bunga dikatakan bunga
lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga
(dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:
• Kelopak bunga atau calyx;
• Mahkota
bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat
serangga yang membantu proses penyerbukan;
• Alat kelamin
jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa
benang sari;
• Alat kelamin
betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: "rumah
wanita") berupa putik.
Contoh bunga: bunga sepatu
-
Bunga Tidak Lengkap
Bunga tidak lengkap adalah
bunga yang tidak memiliki salah satu dari bagian-bagian bunga.
Contoh bunga : bunga kertas
4.3
dokumentasi
pengamatan dan hasil pratikum
·
Diskrpsi bunga
sepatu
kembang sepatu merupakan tumbuhan asli daerah tropis
di dataran Asia. Tanamanm ini kemudian menyebar di berbagai negara, mulai dari
Timur Jauh sampai ke Eropa. Kembang sepatu termasuk tanaman perdu dengan
ketinggian berkisar antara 4 m – 8 m. Batang berstruktur keras, bercabang
banyak. Perakaran cukup dalam dan kuat sehingga batang tumbuh tegak dan kokoh.
Daunnya merupakan daun tunggal, berbentuk oval atau
hati dengan tepi bergerigi, ujung daun meruncing, urat daun menjari dan
menyirip, memiliki daun penumpu. Daun berwarna hijau, panjang daun 5 – 10 cm
dan lebar 3, - 7,5 cm.
Kembang sepatu berbunga tunggal yang ke luar dari
ketiak daun, panjang tangkai bunga 1 – 4 cm, dan menjurai dengan lima mahkota
yang tersusun berbentuk terompet atau lonceng.
Helaian mahkota bunga tunggal atau ganda, warna bunga
bervariasi, misalnya putih, kuning, merah muda, jingga dan kombinasi
warna-warna tersebut. Pembungaan berlangsung sepanjang tahun. Bunga hanya
bertahan mekar 1 – 2 hari. Bunga tersusun atas 5 calyx, 5 mahkota bunga, 15 tangkai
sari dan 1 buah bakal buah yang memiliki banyak ruang. Dari proses penyerbukan
dihasilkan buah yang mengandung banyak biji. Biji kembang sepatu berukuran
kebil, berwarna coklat sampai hitam dan berbulu
·
Diskripsi bunga
kertas
kembang kertas merupakan tumbuhan asli daerah tropis
di dataran Asia. Tanamanm ini kemudian menyebar di berbagai negara, mulai dari
Timur Jauh sampai ke Eropa. Kembang sepatu termasuk tanaman perdu dengan
ketinggian berkisar antara 4 m – 8 m. Batang berstruktur keras, bercabang
banyak. Perakaran cukup dalam dan kuat sehingga batang tumbuh tegak dan kokoh.
Daunnya merupakan daun banyak, berbentuk oval atau
hati dengan tepi halus, ujung daun meruncing, urat daun menjari dan menyirip.
Daun berwarna hijau, panjang daun 4- 7 cm dan lebar 3, - 6 cm.
Kembang kertas berbunga banyak yang ke luar dari
ketiak daun, panjang tangkai bunga 1 – 2 cm, dan menjurai dengan 4 mahkota yang
tersusun berbentuk terompet.
Helaian mahkota bunga tunggal dan satu putik. warna bunga bervariasi,
misalnya putih, dan merah muda. Pembungaan berlangsung sepanjang tahun. Bunga
hanya bertahan mekar kurang lebih 1 minggu. Bunga tersusun atas 4 mahkota
bunga, 4 tangkai putik destiap satu helai mahkota bunga.
BAB V
PENUTUP
Setelah tumbuhan mencapai stadium perkembangan reproduktifnya, maka
beberapa atau semua meristem apeks pucuk
pada ranting berhenti menghasilkan daun dan mulai membentuk bagian bunga. Bunga
merupakan bagian tumbuhan yang amat penting karena berfungsi sebagai alat
perkembangbiakan. Bunga terdiri dari sejumlah bagian steril dan bagian
reproduktif atau fertilyang melekat pada sumbu, yakni dasar bunga atau
reseptakulum. Bagian sumbu yang merupakan ruas batang yang diakhiri oleh bunga
dinamakan tangkai bunga atau pedisel. Bagian steril dari bunga terdiri atas
sejumlah helai daun kelopak atau sepal dan sejumlah helai daun mahkota atau
petal. Masing-masing bagian tersebut dapat menjadi karakter khas dari suatu
familia ataupun tingkat takson di bawahnya. Hasil mikrosporogenesis adalah
mikrospora atau butir serbuk sari. Pada kebanyakan bunga, berkas pembuluh yang
menuju setiap organberdivergensi dari silinder pembulih sentral, di taraf yang
berbeda-beda dalam bunga.
Sebagian bunga terdapat
salah satu yang tidak ada sepeti halnya bunga sempurna. Terkadang yang tidak
lengkap yakni kelamin jantan, kelamin betina atau kelopak bunga.
3.2 Saran
Kata harus mengerti dan
memahami setiap perubahan dari mulainya perbungaan sampai pembentukan bunga
yang mekar sempurna serta sampai layu
dan mati agar kita lebih mendalami gejalanya.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell,
dkk. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta;Erlangga.
CARA
MEMEBUAT HERBARIUM SEDERHANA
Nama :
Tri Hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Herbarium adalah tumbuhan utuh yang
telah kering. Utuh maksudnya lengkap organ vegetatif dan generatif. Organ
vegetatif terdiri dari akar, batang, daun sedangkan organ generatif terdiri
dari bunga, buah dan biji. Biasanya herbarium dibuat untuk tumbuhan yang
berukuran kecil hingga sedang. Hal mi berbubungan dengan cara pengeringannya
yang praktis karena biasanya herbarium dibuat dengan menggunakan buku tebal
yang relatifukurannya kecil.
Herbarium
yang baik adalah herbarium yang lengkap organ vegetatif dan organ
generatifiiya. Selain itu kerapian herbarium juga akan menentukan estetika.
Oleh sebab itu pengerjaan herbarium hams teliti dan berhati-hati. Untuk membuat
herbarium dari tumbuhan yang mini relatif lebih mudah danipada membuat
herbarium dari tumbuhan besar.
1.2 tujuan
Untuk mengetahui dan
karya seni dalam membuat keringan dari tumbuhan.
BAB II
LANDASAN
TEORI
Luca Ghini (1490, Casalfiumanese - 4 Mei 1556) adalah seorang dokter dan
ahli botani Italia, terkenal sebagai pencipta herbarium pertama yang tercatat,
serta kebun raya pertama di Eropa. Dalam botani, herbarium (jamak: herbarium) -
kadang-kadang dikenal dengan istilah herbar keinggeris-inggerisan - adalah
kumpulan spesimen tumbuhan diawetkan. Spesimen ini mungkin seluruh tanaman atau
bagian tanaman: ini biasanya akan berada dalam bentuk kering, dipasang pada
lembar, tapi tergantung pada material juga dapat disimpan dalam alkohol atau
pengawet lainnya. Istilah yang sama sering digunakan dalam ilmu jamur untuk
menggambarkan koleksi setara dengan jamur diawetkan. Istilah ini juga dapat
merujuk kepada bangunan dimana spesimen disimpan, atau lembaga ilmiah yang
tidak hanya menyimpan tetapi penelitian ini spesimen. Spesimen di herbarium
yang sering digunakan sebagai bahan referensi dalam menggambarkan taksa
tanaman, beberapa spesimen mungkin jenis
Ghini lahir di Casalfiumanese, putra notaris, dan belajar kedokteran di
University of Bologna. Pada 1527 ia berceramah di sana pada tanaman obat, dan
akhirnya menjadi profesor. Dia pindah ke Pisa pada 1544, tetap menjaga rumahnya
di Bologna. Dia menciptakan herbarium pertama (Hortus siccus) pada tahun itu,
pengeringan tanaman sambil menekan mereka antara potongan kertas, kemudian
menempelkan ke karton. 1544 juga melihat pembentukan taman untuk tanaman hidup,
yang kemudian dikenal sebagai Orto Botanico di Pisa. The Orto Botanico di Pisa,
juga dikenal sebagai Orto Botanico dell'Università di Pisa, adalah sebuah taman
botani yang dioperasikan oleh University of Pisa, dan terletak di melalui Luca,
Ghini 5 Pisa, Italia. Ini adalah pagi hari kerja terbuka tanpa biaya.
Herbarium berasal dari kata “hortus dan botanicus”,
artinya kebun botani yang dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium
adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan
sistim klasifikasi.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat
dan Waktu
Tempat : mushollah al-ikhlas , gang sejahtera
Waktu : sabtu, 21
Desember 2013
3.2 alat dan bahan
Alat
1.
hvs
2.
buku
3.
alat pres
4.
alat prin
Bahan
1.
daun katu
2.
Alcohol
3.3. Cara keija
Langkah
yang harus dilakukan yaitu:
-
mencari tumbuban yang ukurannya kerdil/mini.
-
lakukan pembersihan dari kotoran dan bagian tumbuhan yang telah kering.
-
cari hvs atau buku tebal
sebagai alat pengering
-
buka lembaran hvs
atau buku lalu selipkan tumbuhan tersebut
-
tata kerapian tumbuhan jangan sampai ada daun yang terlipat atau batang yang tumpang tindih
-
simpan diteinpat pada kondisi suhu kamar.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan pratikum
Dari
hari kehari daun mulai mongering bdan warna juga berubah kecoklatan.
4.2 pembahasan
Bunga katu yang di ambil daunya memiliki kelebihan untuk
melancarkan air asi bagi perempuan yang sedang melahirkan. Saat daun katu di
dilakukan pengeringan memerlukan media yang capat kering. Setalah melakukan
herbarium, daun katu berwarna kecoklatan dan hasilnya sangat sempurna.
4.3 dokumentasi pengamatan
dan hasil praktikum
·
pengamatan
·
hasil praktikum
BAB V
PENUTUP
5.1 kesimpulan
1. Herbarium adalah koleksi spesimen
yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistem klasifikasi
2. Pengawetan tanaman dapat dilakukan
secara basah maupun kering
3. Pada laporan ini, tanaman yang
diawetkan yakni daun katu
5.2 pesan
Dalam pembuatan herbarium kering,
sebaiknya tidak dikeringkan terpapar langsung di bawah sinar matahari,
sebaiknya ditutup atasnya menggunakan kertas karena struktur yang dihasilkan
akan lebih bagus dan wanranya tidak terlalu “gosong” dan
menggunakan alcohol
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, dkk. 2003. Biologi Jilid 2
Edisi Kelima. Jakarta;Erlangga.
MENGHITUNG KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN
Nama : Tri
Hardianto Abrian
NPM : 134110223
Lokal : C/1
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Vegetasi
merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang
hidup bersama-sama pada suatu tempat. Analisis vegetasi adalah suatu cara
mempelajari susunan dan komposisi vegetasi secara bentuk (struktur).
vegetasi
dari tumbuh-tumbuhan. Unsur
struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk.
Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak
pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974)
petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk
jalur atau dengan metode tanpa petak.
Metode
kuadrat umunya dilakukan bila
vegetasi tingkat pohon saja yagng jadi bahan penelitiaan. Metode ini mudah dan
lebih cepat digunan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir
volumenya.
1.2 tujuan
kita dapat
mengetahui secara akurat dan cepat dalam mengguanakan metode kuadrat untuk
menghitung jumlah keanekaragaman tumbuhan.
BABII
LANDASAN TEORI
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan
berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam
inendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal mi suatu
metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam
bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala
yang ada. Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika
digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa
plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali liii hanya menitik
beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi
titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode kuadrat, bentuk percontoh atau
sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang mengganibarkan luas area
tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan
dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode mi dilakukan
perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi
(Surasana, 1990).
Bentuk petak contoh sangat penting dalam
memudahkan penempatan petak contoh dan efisiensi sampling. Ada tiga bentuk
petak contoh yaitu : lingkaran, bujur sangkar dan empat persegi panjang.
Menurut (Loetsch, Zohrer, and Hailer
(1973) kelebihan petak contoh lingkaran umumnya lebih mudah dibuat dibandingkan
bentuk lain, karena dalam penibuatannya yang diperlukan banya titik pusat petak
dan jarij ari lingkaran, selain itu relatiflebih mudah dalam mengatur pohon
batas (borderline tree).
Bentuk iingkaran mempunyai ketelitian
yang cukup tinggi dalam proses pembuatannya. Disamping itu juga, petak bentuk
lingkaran akan praktis kalau digunakan untuk komunitas yang relatif seragam,
seperti pada hutan tanaman, komunitas rumput/herba dan semak belukar.
Bentuk petak ukur empat persegi panjang
atau bujur sangkar mengundang peluang untuk terjadinya bias, karena pembuatan
sudut yang benar-benar tegak lurus di lapangan tidak mudah.
Demikian pula terjadinya error karena
pohon tepi pada kedua macam bentuk petak ukur itu temyata cukup besar (Kadri,
Soerjono, dan Perbatasari, 1992). Walaupun begitu, menurut Siswantoro et.al
(2003) petak contoh berbentuk persegi panjang akan lebih efisie'u dari pada
petak berbentuk bujur sangkar dalam jumlah dan luasan yang sama, bila sumbu
panjang petak sejajar penibahan gradient lingkaran.
Kelimpahan setiap spesies individu atau
jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises
yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang
relatife. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting
dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Tempat
dan Waktu
Tempat : kebun karet fakultas pertanian , universitas islam riau
Waktu : minggu, 15
Desember 2013
3.2 alat dan bahan
1. tali
raffia
2. kayu
4 buah dengan ukuran 30 cm
3. alat
tulis
3.3 cara kerja
1.
ambil tempat petakan secara acak dengan ukuran lebar petakan 1m x 1m x 1m x 1m
2.
identifikasi tanaman yang ada di dalm petakan dan hitung berapa banyak jenis
tanaman dan berapa populasi tanaman yang
ada.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 hasil pengamatan praktikum
|
No
|
Nama tanaman
|
jumlah
|
|
1
|
Sampel 1
|
112
|
|
2
|
Sampel 2
|
1
|
|
3
|
Sampel 3
|
1
|
|
4
|
Sampel 4
|
1
|
4.2 pembahasan
Dalam percobaan ini, saya
menggunakan Metode kuadrat menurut Weaver dan Clements
(1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Ukuran tersebut
bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel
dapat persegi, persegi panjang atau lingkaran. salah satu macam dari metode
kuadrat adalah Count/list count quadrat yakni
Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada beberapa
batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar
spesies yang ada di daerah yang diselidiki. Dari hasilnya terdapat 112 pada
sampel 1 dengan jumlah mayoritas
dibandingkan sampel yang lain.
4.3 dokumentasi
pengamatan dan hasil praktikum
·
Pengamatan
·
Hasil
praktikum
Sampel
1
sampel 2
Sampel 3 sampel
4
BAB V
PENUTUP
5.1 kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang
kami lakukan di kebun karet dekat fakultas pertanin terdapat beberapa jenis spesies rerumputan.
Keanekaragaman tumbuhan yang ada disana cukup baik. Hali ini telah di hitung
berdasarkan data yang didapat dengan mengunakan rumus Count/list count quadrat yang menunjukan bahwa keanekaragaman
tumbuhannya sedang atau cukup baik.
5.2 pesan
Kita bias mengunakan metode
selain metode kuadrat , memudahka kita untuk mengumpulkan dat yang akurat dan
juga dalm meneliti harus serius agar
kecelakaan dalm mengumpulkan data
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell,
dkk. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta;Erlangga.
Tersedia:
http://itswrong.webs.com/ukur_bio.pdf
Ayun.
2012. Metode Analisis Vegetasi (Metode Kuadrat).
Tersedia:http:/fbiologi08share.blogspot.comI2009/O4lbeberapa-metodologi
yang umum - dan.html
Wirakusumah,
Sambas. 2003. Dasar-Dasar Ekologi bagi Populasi dan Komunitas.




0Awesome Comments!